Blog List

Tampilkan postingan dengan label Bantahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bantahan. Tampilkan semua postingan
Cahaya Sunnah On Selasa, 20 Desember 2011
Wajib diketahui oleh setiap kaum Musimin dimanapun mereka berada bahwasanya firqoh Wahabi adalah Firqoh yang sesat, yang ajarannya sangat berbahaya bahkan wajib untuk dihancurkan. Tentu hal ini membuat kita bertanya-tanya, mungkin bagi mereka yang PRO akan merasa marah dan sangat tidak setuju, dan yang KONTRA mungkin akan tertawa sepuas-puasnya.. Maka siapakah sebenarnya Wahabi ini??

Bagaimanakah sejarah penamaan mereka??
Marilah kita simak dialog Ilmiah yang sangat menarik antara Syaikh Muhammad bin Sa’ad Asy Syuwai’ir dengan para masyaikh/dosen-dosen disuatu Universitas Islam di Maroko
Salah seorang Dosen itu berkata: “Sungguh hati kami sangat mencintai Kerajaan Saudi Arabia, demikian pula dengan jiwa-jiwa dan hati-hati kaum muslimin sangat condong kepadanya,dimana setiap kaum muslimin sangat ingin pergi kesana, bahkan antara kami dengan kalian sangat dekat jaraknya. Namun sayang, kalian berada diatas suatu Madzhab, yang kalau kalian tinggalkan tentu akan lebih baik, yaitu Madzhab Wahabi.”

Kemudian Asy Syaikh dengan tenangnya menjawab: “Sungguh banyak pengetahuan yang keliru yang melekat dalam pikiran manusia, yang mana pengetahuan tersebut bukan diambil dari sumber-sumber yang terpercaya, dan mungkin kalian pun mendapat khabar-khabar yang tidak tepat dalam hal ini.
Baiklah, agar pemahaman kita bersatu, maka saya minta kepada kalian dalam diskusi ini agar mengeluarkan argumen-argumen yang diambil dari sumber-sumber yang terpercaya,dan saya rasa di Universitas ini terdapat Perpustakaan yang menyediakan kitab-kitab sejarah islam terpercaya. Dan juga hendaknya kita semaksimal mungkin untuk menjauhi sifat Fanatisme dan Emosional.”

Dosen itu berkata : “saya setuju denganmu, dan biarkanlah para Masyaikh yang ada dihadapan kita menjadi saksi dan hakim diantara kita.”

Asy Syaikh berkata : “saya terima, Setelah bertawakal kepada Allah, saya persilahkan kepada anda untuk melontarkan masalah sebagai pembuka diskusi kita ini.”

Dosen itu pun berkata :
“Baiklah kita ambil satu contoh, ada sebuah fatwa yang menyatakan bahwa firqoh wahabi adalah Firqoh yang sesat. Disebutkan dalam kitab Al-Mi’yar yang ditulis oleh Al Imam Al-Wansyarisi, beliau menyebutkan bahwa Al-Imam Al-Lakhmi pernah ditanya tentang suatu negeri yang disitu orang-orang Wahabiyyun membangun sebuah masjid, “Bolehkan kita Sholat di Masjid yang dibangun oleh orang-orang wahabi itu ??” maka Imam Al-Lakhmi pun menjawab: “Firqoh Wahabiyyah adalah firqoh yang sesat, yang masjidnya wajib untuk dihancurkan, karena mereka telah menyelisihi kepada jalannya kaum mu’minin, dan telah membuat bid’ah yang sesat dan wajib bagi kaum muslimin untuk mengusir mereka dari negeri-negeri kaum muslimin “.
(wajib kita ketahui bahwa Imam Al-Wansyarisi dan Imam Al-Lakhmi adalah ulama ahlusunnah)

Dosen itu berkata lagi : “Saya rasa kita sudah sepakat akan hal ini, bahwa tindakan kalian adalah salah selama ini,”

Kemudian Asy Syaikh menjawab : ”Tunggu dulu..!! kita belum sepakat, lagipula diskusi kita ini baru dimulai, dan perlu anda ketahui bahwasannya sangat banyak fatwa yang seperti ini yang dikeluarkan oleh para ulama sebelum dan sesudah Al-Lakhmi, untuk itu tolong anda sebutkan terlebih dahulu kitab yang menjadi rujukan kalian itu !”

Dosen itu berkata: ”Anda ingin saya membacakannya dari fatwanya saja, atau saya mulai dari sampulnya ??”

Asy Syaikh menjawab: ”Dari sampul luarnya saja.”

Dosen itu kemudian mengambil kitabnya dan membacakannya: ”Namanya adalah Kitab Al-Mi’yar, yang dikarang oleh Ahmad bin Muhammad Al-Wansyarisi. Wafat pada tahun 914 H di kota Fas, di Maroko.”

Kemudian Asy Syaikh berkata kepada salah seorang penulis di sebelahnya: “Wahai syaikh, tolong catat baik- baik, bahwa Imam Al-Wansyarisi wafat pada tahun 914 H. Kemudian bisakah anda menghadirkan biografi Imam Al- Lakhmi??”

Dosen itu berkata: “Ya.”

Kemudian dia berdiri menuju salah satu rak perpustakaan, lalu dia membawakan satu juz dari salah satu kitab-kitab yang mengumpulkan biografi ulama. Didalam kitab tersebut terdapat biografi Ali bin Muhammad Al-Lakhmi, seorang Mufti Andalusia dan Afrika Utara.

Kemudian Asy Syaikh berkata : “Kapan beliau wafat?”
Yang membaca kitab menjawab: “Beliau wafat pada tahun 478 H“

Asy Syaikh berkata kepada seorang penulis tadi: “Wahai syaikh tolong dicatat tahun wafatnya Syaikh Al-Lakhmi” kemudian ditulis.

Lalu dengan tegasnya Asy Syaikh berkata : “Wahai para masyaikh….!!! Saya ingin bertanya kepada antum semua …!!! Apakah mungkin ada ulama yang memfatwakan tentang kesesatan suatu kelompok yang belum datang (lahir) ???? kecuali kalau dapat wahyu????”

Mereka semua menjawab : “Tentu tidak mungkin, Tolong perjelas lagi maksud anda !”

Asy syaikh berkata lagi : “Bukankah wahabi yang kalian anggap sesat itu adalah dakwahnya yang dibawa dan dibangun oleh Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab????”

Mereka berkata : “Siapa lagi???”

Asy Syaikh berkata: “Coba tolong perhatikan..!!! Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab lahir pada tahun 1115 H dan wafat pada tahun 1206 H, …

Nah, ketika Al-Imam Al-Lakhmi berfatwa seperi itu, jauh RATUSAN TAHUN lamanya sebelum syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab lahir..bahkan sampai 22 generasi ke atas dari beliau sama belum ada yang lahir..apalagi berdakwah..

KAIF ??? GIMANA INI???” (Merekapun terdiam beberapa saat..)

Kemudian mereka berkata: “Lalu sebenarnya siapa yang dimaksud Wahabi oleh Imam Al-Lakhmi tersebut ?? mohon dielaskan dengan dalil yang memuaskan, kami ingin mengetahui yang sebenarnya !”

Asy Syaikh pun menjawab dengan tenang : “Apakah anda memiliki kitab Al-Firaq Fii Syimal Afriqiya, yang ditulis oleh Al-Faradbil, seorang kebangsaan Francis ?”

Dosen itu berkata: “Ya ini ada”

Asy Syaikh pun berkata : “Coba tolong buka di huruf “wau” .. maka dibukalah huruf tersebut dan munculah sebuah judul yang tertulis “Wahabiyyah“

Kemudian Asy Syaikh menyuruh kepada Dosen itu untuk membacakan tentang biografi firqoh wahabiyyah itu.

Dosen itu pun membacakannya: ”Wahabi atau Wahabiyyah adalah sebuah sekte KHOWARIJ ABADHIYYAH yang dicetuskan oleh Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum Al-Khoriji Al-Abadhi, Orang ini telah banyak menghapus Syari’at Islam, dia menghapus kewajiban menunaikan ibadah haji dan telah terjadi peperangan antara dia dengan beberapa orang yang menentangnya. Dia wafat pada tahun 197 H di kota Thorat di Afrika Utara. Penulis mengatakan bahwa firqoh ini dinamai dengan nama pendirinya, dikarenakan memunculkan banyak perubahan dan keyakinan dalam madzhabnya. Mereka sangat membenci Ahlussunnah.
Setelah Dosen itu membacakan kitabnya Asy Syaikh berkata : “Inilah Wahabi yang dimaksud oleh imam Al-Lakhmi, inilah wahabi yang telah memecah belah kaum muslimin dan merekalah yang difatwakan oleh para ulama Andalusia dan Afrika Utara sebagaimana yang telah kalian dapati sendiri dari kitab-kitab yang kalian miliki. Adapun Dakwah yang dibawa oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang didukung oleh Al-Imam Muhammad bin Su’ud-Rahimuhumallah-, maka dia bertentangan dengan amalan dakwah Khowarij, karena dakwah beliau ini tegak diatas kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih, dan beliau menjauhkan semua yang bertentangan dengan keduanya, mereka mendakwahkah tauhid, melarang berbuat syirik, mengajak umat kepada Sunnah dan menjauhinya kepada bid ’ah, dan ini merupakan Manhaj Dakwahnya para Nabi dan Rasul.

(silahkan lihat kitab Al Kamil Oleh Ibnu Atsir)
Sumber: http://kampungsalaf.wordpress.com/2011/09/14/inilah-wahhabi-sesungguhnya/
Cahaya Sunnah On Senin, 19 Desember 2011
Oleh: Syaikh Abu Bashir Ath-Thurthusi

Sejatinya saya tidak menyukai berbagai terminologi kontemporer yang dapat memecah-belah kaum muslimin dan tidak mempunyai citra persatuan di antara mereka. Akan tetapi, saya terpaksa mendeklarasikan secara tegas dan gamblang –tanpa fanatisme dan sikap sentimen golongan– bahwa saya adalah seorang Wahhabi! Saya adalah seorang yang menaruh hormat dan simpati kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, dan kepada dakwahnya.

Apabila Wahhabiyah berarti dakwah menyeru orang kepada tauhid dan akidah yang benar, menghapuskan kesyirikan dan berlepas diri dari orang-orang musyrik, sebagaimana dakwah yang diserukan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, maka saya adalah seorang Wahhabi!

Apabila Wahhabiyah berarti dakwah menyeru manusia kepada Al-Qur‘an dan As-Sunnah, berpegang teguh kepada teladan, petunjuk, dan pemahaman salaf ash-shalih, serta memberangus fanatisme mazhab, sebagaimana dakwah yang diserukan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, maka saya adalah seorang Wahhabi!

Jika Wahhabiyah berarti berpegang teguh kepada As-Sunnah yang kokoh dan shahih, serta memberangus bid’ah, takhayul, dan khurafat (mitos), sebagaimana dakwah yang dilakukan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, maka saya adalah seorang Wahhabi!
...Jika Wahhabiyah berarti berpegang teguh kepada As-Sunnah, memberangus bid’ah, takhayul, dan khurafat sebagaimana dakwah yang dilakukan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, maka saya adalah seorang Wahhabi!...

Apabila Wahhabiyah berarti berjihad memerangi segenap thaghut (setiap orang dan segala sesuatu yang disembah dan ditaati selain Allah) yang zalim, memerangi kesyirikan dan orang-orang musyrik, sebagaimana dakwah yang dilakoni oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, maka saya adalah seorang Wahhabi!

Apabila Wahhabiyah berarti sikap dan paradigma al-wasathiyyah (pertengahan); tidak cenderung kepada sikap berlebihan seperti Khawarij dan tidak longgar atau menggampangkan seperti Murjiah, sebagaimana dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, maka saya adalah seorang Wahhabi!

Dan masih ada banyak lagi perilaku yang dianggap musuh-musuh dakwah tauhid Sebagai bagian dari Wahhabiyah, yang secara menyeluruh berupaya memurnikan kalimat tauhid la ilaha illallah beserta segala aspek yang terkait dengannya berikut konsekuensinya, maka saksikanlah bahwa saya adalah seorang Wahhabi!

Apabila kita mengamati dan mencermati sikap orang-orang dengki yang memusuhi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan dakwahnya, maka kita mendapatkan bahwa mereka bisa jadi adalah orang kafir, atau kelompok Syi’ah Rafidhah, atau kaum Sufi ekstrim, atau kalangan pelaku bid’ah yang sesat, atau kelompok orang-orang bodoh yang sangat membenci tanpa mau mengetahui sedikit pun dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
...Orang-orang dengki yang memusuhi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan dakwahnya, bisa jadi adalah orang kafir, Syi’ah Rafidhah, Sufi ekstrim, atau pelaku bid’ah yang sesat...

Itulah batalion kejahatan. Siapa saja merelakan dirinya untuk bergabung ke dalamnya, mendedikasikan diri untuk menjadi prajuritnya, dan memperkuat barisannya, niscaya dia akan menemui kekecewaan dan kerugian.

Mengapa mereka begitu murka  kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab? Pada masa sekarang, betapa banyaknya orang yang membenci dakwah tauhid. Sudah sejak lama kita mendengar berbagai kelompok yang melontarkan cacian, makian, dan fitnah dusta kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan dakwahnya. Sampai-sampai istilah ‘Wahhabi’ dan ‘Wahhabiyah’ menjadi stigma buruk dan negatif di kalangan manusia. Sayangnya, mereka sedikit pun tidak bisa mendatangkan dalil tak terbantahkan dan argumentasi kuat yang dapat melegitimasi kebencian, kezaliman, dan kedengkian mereka.

Khazanah intelektual dan karya-karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berserakan di mana-mana. Orang yang menginginkannya bisa dengan mudah mendapatkannya. Semua karya-karyanya berbicara dengan kebenaran, mengajak kebenaran, dan memerintahkan kebenaran. Jika ada pernyataan di dalamnya yang kalian bantah dan tolak, maka datangkanlah satu antitesa yang mu’tabar (kredibel dan tak terbantahkan). Jika kalian merasa benar, bantahlah dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dengan hujjah-hujjah meyakinkan yang bisa menjustifikasi permusuhan dan kebencian kalian!

Namun jika kalian tidak bisa mendatangkan –sekali-kali tidak akan bisa– argumentasi dan bukti itu, maka akuilah bahwa yang kalian benci dan musuhi dari dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah sebuah kebenaran. Ya, kebenaran itulah yang tidak disukai oleh kalian dan para thaghut.

Apabila kalian mengatakan, “Tengoklah kezaliman dan kekeliruan sebagian kalangan yang berafiliasi kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan dakwahnya pada masa sekarang!” Maka saya menjawab, “Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan dakwahnya tidak bisa diserang dan dihujat hanya karena ada segelintir orang yang mengaku berafiliasi kepadanya, lalu mereka membuat kesalahan dan kekeliruan. Kesalahan yang dilakukan seorang pengikut atau murid tidak lantas membuat pemimpin atau gurunya layak mendapatkan cercaan dan hujatan. Seseorang tidak bisa dimintai tanggung jawab atau dihukum berdasarkan dosa orang lain. Seandainya hal ini bisa diterima, niscaya tidak akan ada orang di muka bumi yang selamat dari kesalahan dan hukuman.” Wallahu A’lam.

[Diterjemahkan oleh Ganna Pryadharizal dari artikel berjudul Na’am Ana Wahhabi!]
Cahaya Sunnah On Kamis, 15 Desember 2011
Saya kira inilah tulisan ulama masyhur terbaik yang dapat mematahkan fitnah dan Jarh dari orang-orang yang iri dengan ketenaran Ibnu Taimiyah. 
Tulisan Ini Merupakan sebuah Taqridz (Pengantar) terhadap sebuah Buku yang disusun Oleh Ibnu Nashiruddin Ad Dimasqi, seorang Hafidz dan Fuqaha dari karangan Syafiiyah.

Kitab Tersebut Berjudul Raddul Waafir ala Man Zaama anna man Samma ibnu Taimiyah Syaikhul Islam kaafir
(الرد الوافر على من زعم أن من سمى ابن تيمية شيخ الإسلام كافر)

InsyaAllah akan datang pembahasan tersendiri tentang Kitab ini.

Penyebab kitab ini dikarang sebagaimana yang tercantum dalam kitab tersebut adalah Fatwa yang menyebar di khalayak Umum saat itu tentang kafirnya orang yang memberi julukan ibnu Taimiyah sebagai Syaikhul Islam dan tidak sah sholat dibelakang orang tersebut.

Fatwa tersebut secara jelas bukan saja pengkafiran terhadap Ibnu Taimiyah, tapi juga pengkafiran terhadap pengikutnya.

demi mendengar itu, Ibnu Nasiruddin bahkan Memohon dan berdoa agar Allah menyegerakan pemberi Fatwanya dengan Azab yang sesuai dengan perkataannya yang lancang tersebut. Beliaupun mengarang Raddul Waafir yang mengumpulkan lebih dari 80 pendapat dan tulisan ulama yang mengakui dan menjuluki ibnu Taimiyah sebagai syaikhul Islam.

Silahkan download kitab Raddul Waafir dan makhtutatnya

Apa yang membuat pengantar kitab Ini begitu penting adalah Penulisnya yang merupakan Pentolan ulama hadits dari kalangan Syafiiyah secara Khusus dan merupakan salah satu ulama hadits terbesar sepanjang masa. Para Ulama Menggelarinya Amirul Mukminin fi ilmil Hadiits. Dialah Al Hafidz Syihabuddin Ahmad Bin Hajar Al Atsqalani As Syafii.

perlu diketahui Bahwa para pembenci Ibnu Taimiyah banyak berasal dari kalangan Syafiiyah yang bermazhab Asy’ari dalam Aqidah.

Kebenaran kitab dan Taqridz Ini tidak bisa diragukan lagi karena secara meyakinkan dan Jelas dinukil secara lengkap oleh Murid Ibnu Hajar sendiri yaitu Al hafidz As Sakhawi ketika beliau mengarang biografi gurunya tersebut dalam Kitab yang ia beri judul Aljawaahir Waddurar fi Tarjamati syaikhul Islam Ibnu Hajar dan juga disalin ulang oleh Murid Ibnu Nashiruddin Ad Dimasqi yang bernama Muhammad bin Muhammad bin Abdullah Al ja’fari As Syafii

Silahkan mendownload Kitab tersebut

Berikut data gambar tentang Taqridz tersebut
Taqridz yang terdapat dalam manuskrip Raddul Waafir

Pic 123
pic 124
pic 125

 
Taqridz yang terdapat dalam Kitab Al Jawahir
hal cover juz 2

Hal 734
hal 735
hal 736

Berikut Terjemahan dari Taqridz Tersebut.

Segala Puji Bagi Allah dan Salam atas hamba-hambanya yang telah Ia pilih.

Aku telah Melihat karangan yang bermanfaat ini. Tujuan-tujuan yang diinginkan dalam pengumpulan pendapat-pendapat ini sudah komprehensif keluasan Ilmu pengarangnya sudah terjamin begitu juga pengaruhnya terhadap ilmu-ilmu yang bermanfaat yang diagungkan dan dimuliakan oleh Para Ulama.
Masyhurnya keimaman Syaikh Taqiyuddin lebih masyhur dari matahari. Julukannya sebagai Syaikhul Islam pada zamannya tetap berlaku sampai sekarang dilisan orang-orang yang mensucikan dan akan tetap berlanjut dimasa mendatang seperti berlaku kemarin. Hanya orang-orang yang rendah kapasitasnya yang mengingkari hal itu. Atau orang tersebut jauh dari sifat Insyaf. Alangkah bersalahnya orang yang melakukan hal itu dan banyak sekali debunya

Maka Allahlah yang ditanya untuk membersihkan kita dari kejahatan-kejahatan diri kita serta mengumpulkan lisan-lisan kita dengan anugerah dan kemurahannya.

Kalaulah tidak ada dalil atas keimaman laki-laki ini kecuali apa yang diberitakan oleh Al Hafidz Asysyahiir Ilmuddin Albarzali pada kitab Tarikh milik beliau : bahwasanya tidak ditemui di dalam Islam jumlah orang yang berkumpul untuk melayat Jenazah seperti berkumpulnya manusia Untuk melayat Jenazah As Syaikh Taqiyuddin., Dia membandingkan bahwasanya jenazah Imam Ahmad dikerumuni banyak sekali manusia, Jenazah Imam Ahmad disaksikan Oleh Ratusan ribu orang, tetapi Kalau kejadian di Damaskus tersebut sama dengan keadaan di Baghdad kala itu atau lebih rendah lagi, Niscaya tidak ada satupun orang yang akan ketinggalan untuk menyaksikan Jenazahnya. Begitu Pula, seluruh orang yang ada di Baghdad –kecuali sedikit– meyakini keimaman Imam Ahmad, dan Amir Baghdad dan Khalifah kala itu sangat mencintai dan Mengagungkan Imam Ahmad.

Berbeda dengan keadaan Ibnu Taimiyah yang Amir daerah tersebut sedang tidak berada ditempat ketika Beliau wafat dan kebanyakan ulama Negeri tersebut tidak berpihak Kepadanya hingga ia mati dalam keadaan terkurung dipenjara Qal’ah.

Meskipun demikian, hal itu tidak membuat mereka ketinggalan untuk menyaksikan, memuliakan, dan meratapi Jenazahnya kecuali 3 orang yang ketakutan terhadap massa.

Dengan kehadiran sejumlah besar Massa tersebut, Maka pastilah didorong oleh keimaman dan keberkahannya, bukan didorong oleh ikut hadirnya sulthon atau selainnya.

Telah Sohih dari Nabi Shollallahu Alaihi Wasallam bahwasanya Beliau bersabda: “ Kalian adalah Saksi-saksi Allah dibumi”.(diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, red)

Sekumpulan Ulama telah Membantah As Syaikh Taqiyuddin berkali-kali dan Beberapa persidangan juga telah digelar di Kairo dan Damaskus disebabkan oleh beberapa hal yang mereka Ingkari dalam masalah ushul dan furu. Sekalipun demikian, tidak pernah diriwayatkan fatwa kezindikan dan kehalalan darahnya oleh satupun dari para ulama tersebut. Meskipun penduduk negeri tersebut sangat tidak berpihak Kepadanya ketika itu hingga ia ditahan di Kairo kemudian di Alexandria.

Meskipun begitu juga, mereka mengakui keluasan Ilmu dan besarnya kewaraan dan kezuhudannya. Ia disifati sebagai pemurah, berani dan lain-lain karena tindakannya membela Islam dan berdakwah kepada Allah baik secara sembunyi maupun terang-terangan.

Maka bagaimana mungkin orang yang mengatakannya kafir tidak diingkari?! Bahkan bagaimana mungkin pengkafiran orang yang menyebutnya Syaikhul Islam tidak diingkari?! Penyebutan Syaikhul Islam kepada Beliau tidaklah berkonsekwensi kekafiran penyebutnya. Karena Sesungguhnya dia memang Syaikhul Islam tanpa Keraguan.

Adapun Hal-hal yang diingkari dari beliau sebenarnya adalah apa yang ia katakan dengan syahwatnya, dan orang yang mengatakan hal tersebut tidak selalu dianggap menyimpang setelah disampaikan dalil kepadanya. Padahal karangan-karangan beliau penuh dengan bantahan dan berlepas diri kepada siapapun yang meyakini tajsim.

Meskipun begitu, dia adalah manusia yang bisa salah dan benar. Pendapat-pendapatnya yang benar lebih banyak dan pendapat tersebut banyak diambil faidahnya dan beliau dimuliakan dengan sebab itu. Adapun yang salah, janganlah diikuti, tetapi itu termaafkan, Karena para Imam yang Sezaman dengan Beliau telah menyaksikan bahwa atribut-atribut mujtahid telah terpenuhi pada dirinya. Bahkan orang yang paling tidak berpihak kepada beliau dan yang melakukan hal-hal buruk kepadanya, Yaitu Syaikh Kamaluddin Al Zamlakani juga bersaksi atas hal itu., begitu Juga Sodruddin Ibnul Wakil yang kedapatan hanya pernah berdebat dengan beliau.

Yang Paling menakjubkan adalah lelaki Ini merupakan orang yang paling menentang Ahli bid’ah dari kalangan Rafidah, Hululiyah, dan Ittihadiyah. Karangan-karangan tentang penentangannya terhadap mereka Juga amat banyak dan Masyhur. Fatwa-Fatwanya bahkan tidak terhitung lagi.

Aduhai Betapa senangnya ketika mereka mendengar kekufurannya!

Aduhai betapa bahagianya ketika mereka melihat orang-orang yang mengkafirkannya adalah ahli Ilmu!

Merupakan kewajiban siapapun yang memakai pakaian Ilmu dan memiliki akal untuk merenungkan perkataan laki-laki ini berdasarkan karangan-karangannya yang telah Masyhur, atau dari lisan para Ahli naql yang terpercaya, kemudian dipisahkan apa yang diingkari dari beliau, dan setelah itu diperingatkan dengan maksud nasehat, dan dipuji dengan keutamaannya pada apa yang merupakan kebenaran seperti perlakuan terhadap ulama-ulama lainnya.

Kalaulah As Syaikh Taqiyuddin tidak memiliki kebaikan selain memiliki murid yang masyhur seperti Syamsuddin Ibnul Qayyim Al Jauziyah, —pemilik karangan-karangan yang bermanfaat yang diambil manfaatnya oleh orang-orang yang menyepakati maupun yang menentangnya—Niscaya hal itu sudah merupakan petunjuk utama dari agungnya kedudukan beliau.

Bagaimana mungkin ia dikafirkan, sementara para Imam yang sezaman dengan beliau dari kalangan Syafiiyah Apalagi Hanabilah telah menjadi saksi atas keunggulan Ilmu dan keistimewaan beliau dalam memahami makna tersurat dan tersirat.

Siapapun yang memutlakkan pengkafiran kepada beliau atau kepada yang menjuluki beliau Syaikhul Islam padahal beliau telah disaksikan keunggulan ilmu dan keistimewaannya dalam hal memahami makna tersurat dan tersirat, maka janganlah dilirik, lagipula tidak diriwayatkan kedudukan tersebut kepadanya, Bahkan wajib membantah hal tersebut hingga rujuk kepada yang haq dan tunduk kepada kebenaran.

Sesungguhnya Allah mengatakan yang haq dan akan menunjukkan Jalannya, Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.

Dikatakan ditulis Oleh Ahmad Bin Ali bin Muhammad bin Hajar As Syafii, Afallaahu anhu pada hari Jum’at tanggal 9 Rabiul Awal Tahun 835 Hijriah seraya bertahmid kepada Allah dan Bershalawat kepada Rasul-Nya –Muhammad- dan keluarganya

Semoga Bermanfaat
____________
http://syaikhulislam.wordpress.com/2010/03/03/ibnu-taimiyah-dikafirkan-ibnu-hajar-meradang/
Cahaya Sunnah On Rabu, 14 Desember 2011
Terlalu banyak tuduhan-tuduhan dusta ditujukan kepada Ibnu Taimiyyah untuk memudarkan cahaya kebaikan beliau rahimahullah. Kedustaan-kedustaan ini sebagian besarnya telah dibantah dalam sebuah disertasi untuk meraih gelar doktoral yang berjudul دَعَاوَى الْمُنَاوِئِيْنَ لِشَيْخِ الإِسْلاَمِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ (Tuduhan-Tuduhan Musuh-Musuh Ibnu Taimiyyah) yang ditulis oleh As-Syaikh Abdullah bin Sholeh bin Abdul Aziiz al-Gushn. (silahkan di download di http://waqfeya.net/book.php?bid=1876). 

Bahkan yang lebih sadis dari sekedar-sekedar tuduhan dusta, ternyata ada sebagian orang yang menggabungkan antara tuduhan dusta dan sekaligus mengkafirkan Ibnu Taimiyyah. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Abu Salafy yang telah menuduh Ibnu Taimiyyah dengan tuduhan palsu sekaligus menuduh Ibnu Taimiyyah sebagai gembong kaum munafik (lihat kembali http://www.firanda.com/index.php/artikel/bantahan/117-tipu-muslihat-abu-salafy-cs-3-qtuduhan-ustadz-abu-salafy-bahwasanya-ibnu-taimiyyah-mencela-ali-dan-umarq). 

Disinyalir Abu Salafy dialah si Idahram yang juga tukang dusta. Ternyata gaya-gaya Abu Salafy ini hanyalah mengikuti gurunya Habib Hasan Saqqoof yang juga telah menuduh dengan tuduhan-tuduhan dusta serta mengkafirkan Ibnu Taimiyyah. Hal ini telah ditegaskan oleh Habib Wahabi Alawi bin Abdil Qodir As-Saqoof, beliau berkata : "Dahulu saya pernah membaca beberapa buku karya Hassaan bin Ali As-Saqqoof, akan tetapi seingatku saya tidak pernah selesai membaca satu bukupun dari buku-buku tersebut karena saya terasa muak dan merinding tatkala melihat celaan, ejekan, hinaan, dan makiannya terhadap para imam Ahlus Sunnah. Kemudian terakhir-terakhir ini tatkala saya mendengar suatu tayangan di channel Mustaqillah dimana dia telah mengkafirkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah maka sayapun turut berpartisipasi untuk membantahnya…" ('Abats Ahil Ahwaa' bi Turoots al-Ummah hal 5-6, silahkan download di http://waqfeya.net/book.php?bid=5414)

Ternyata isu tentang pencelaan Ibnu Taimiyyah sudah ada sejak dulu. Ada salah seorang musuh Ibnu Taimiyyah yang berkata bahwasanya barangsiapa yang mengatakan Ibnu Taimiyyah adalah Syaikhul Islam maka ia telah kafir. Bukan hanya Ibnu Taimiyyah yang dikafirkan, bahkan semua yang mengatakan Ibnu Taimiyyah sebagai Syaikhul islam maka telah kafir.

(Hal ini mengingatkan saya pada Abu Salafy dan konco-konconya yang sering menuduh kaum wahabi sebagai khawarij, ternyata justru mereka yang begitu mudah mengkafirkan kaum wahabi). Untuk membantah perkataan ini maka tegaklah seorang ulama dari madzhab As-Syafi'iah yang bernama Ibnu Nashiruddin Ad-Dimasyqi (wafat 842 H) menulis sebuah risalah yang sangat baik dengan judul الرَّدُّ الْوَافِرُ عَلَى مَنْ زَعَمَ أَنَّ مَنْ سَمَّى ابْنَ تَيْمِيَّةَ شَيْخَ الإِسْلاَمِ كَافِرٌ (Bantahan yang cukup terhadap orang yang menyangka barang siapa yang menggelari Ibnu Taimiyyah sebagai Syaikhul Islam maka telah kafir- bisa di download di http://kotubcom.blogspot.com/2011/02/pdf_2275.html (cetakan lama).

Dan dalam risalahnya ini Ibnu Nashiruddin As-Syafi'i menyebutkan pujian sekitar 85 ulama besar dari berbagai madzhab, madzhab Hanafi, madzhab Maliki, madzhab Syafi'i dan madzhab Hanbali. Setelah itu Ibnu Nashiruddin berkata :

"Sungguh kami tidak menyebutkan jumlah yang banyak dari kalangan para ulama yang menyatakan akan keimaman Ibnu Taimiyyah dan juga sikap zuhud dan waro' beliau" (Ar-Rod al-Waafir hal 74, dan bagi para pembaca yang ingin melihat pujian-pujian para ulama terhadap Ibnu Taimiyyah maka silahkan mendownload kitab الْجَامِعُ لِسِيْرَةِ شَيْخِ الْإِسْلاَمِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ bisa didownload di http://www.waqfeya.com/book.php?bid=1000)

Sebagaimana kitab Idahram yang berisi kedustaan terang-terangan dan tuduhan dusta kepada wahabiyah diberi pengantar oleh DR Said Aqiel Siradj maka risalah Ar-Rod Al-Waafir yang membela Ibnu Taimiyyah (yang dianggap dedengkot wahabi oleh para pembenci wahabi) juga diberi pengantar oleh Ibnu Hajar Al-'Asqolaani rahimahullah. Risalah Ar-Rod Al-Waafir selain mencantumkan sekitar 85 ulama yang menyatakan Ibnu Taimiyyah sebagai imam, risalah ini juga diberi pengantar oleh para ulama besar, diantaranya Al-Haafizh Ibnu Hajar Al-'Asqolaaniy Asy-Syafii yang telah memuji risalah ini, dan telah memuji kepada Ibnu Taimiyyah dengan pujian setinggi langit. Berikut ini saya terjemahkan kata pengantar beliau :

((Segala puji bagi Allah, dan keselamatan bagi hamba-hambaNya yang telah Ia pilih. Aku telah melihat tulisan yang bermanfaat ini, yang merupakan kumpulan untuk maksud-maksud (tujuan-tujuan) yang telah dikumpulkan oleh pengumpulnya. Maka jelas bagiku luasnya Imam yang telah menulis tulisan ini serta kedalamannya terhadap ilmu-ilmu yang bermanfaat yang diagungkan dan dimuliakannya di antara para ulama.

Dan tersohornya keimaman As-Syaikh Taqiyyuddin (*Ibnu Taimiyyah) lebih tersohor daripada  matahari. Dan penggelaran beliau dengan Syaikul Islam tetap terjaga di lisan-lisan yang suci sejak zaman beliau hingga saat ini , dan akan terus lestari hingga hari esok sebagaimana hari yang lalu. Tidak ada yang mengingkari hal ini kecuali hanyalah orang jahil (dungu) atau orang yang menjauhi sikap adil. Maka sungguh berat dan betapa besar keburukan orang yang melakukan hal tersebut (*menyatakan kafirnya orang yang menggelari Ibnu Taimiyyah sebagai Syaikhul Islam). Hanya kepada Allahlah kita memohon –dengan anugerah dan karuniaNya- agar menjaga kita dari keburukan diri-diri kita dan akibat-akibat buruk dari lisan-lisan kita.

Kalau seandainya tidak ada keutamaan yang dimiliki oleh Ibnu Taimiyyah kecuali hanya apa yang diingatkan oleh Al-Haafiz yang tersohor yaitu 'Alamuddiin Al-Barzaaly dalam kitab "Taarikh" nya (*maka sudah cukup) yaitu bahwasanya tidak pernah terjadi dalam sejarah Islam seseorang yang tatkala meninggal maka berkumpulah manusia yang begitu banyak sebagaimana pada jenazah As-Syaikh Taqiyyuddin (Ibnu Taimiyyah). Dan beliau mengisyaratkan bahwasanya jenazah Imam Ahmad tatkala itu dihadiri oleh sangat banyak orang (*di kota Baghdad), dihadiri oleh ratusan ribu orang. Akan tetapi seandainya jika di kota Damaskus (*tempat wafatnya Ibnu Taimiyyah) jumlah penduduknya seperti jumlah penduduk kota Baghdad atau bahkan berlipat-lipat ganda dari jumlah penduduk kota Baghdad maka tidak seorangpun dari penduduk yang tidak menghadiri janazah Ibnu Taimiyyah. Selain itu seluruh penduduk Baghdad –kecuali hanya sedikit-, mereka seluruhnya meyakini keimaman Imam Ahmad. Dan gubernur kota Baghdad dan juga Khalifah/Raja pada waktu itu sangat mencintai dan mengagungkan Imam Ahmad.

Berbeda halnya dengan Ibnu Taimiyyah. Gubernur Damaskus sedang tidak ada di tempat tatkala wafatnya Ibnu Taimiyyah, dan (juga) mayoritas ahli fikih di Damaskus tatkala itu menentang Ibnu Taimiyyah hingga akhirnya Ibnu Taimiyyah meninggal dalam keadaan di penjara di Qol'ah. Meskipun demikian tidak seorangpun dari para ahli fikih tersebut yang tidak menghadiri jenazah Ibnu Taimiyyah dan mendoakan rahmat baginya dan turut berduka cita. Kecuali hanya tiga orang yang tidak ikut serta karena mereka mengkhawatirkan diri mereka dari (gangguan) masyarakat umum (*karena ketiga orang ini sangat dikenal oleh masyarakat membenci dan menentang Ibnu Taimiyyah-pen). Dan meskipun telah berkumpul jumlah manusia yang begitu banyak  akan tetapi tidaklah ada yang mendorong mereka untuk berkumpul kecuali karena keyakinan mereka terhadap keimaman Ibnu Taimiyyah dan keberkahannya. Mereka berkumpul bukan karena diperintahkan oleh penguasa, dan juga bukan karena sebab yang lain. Dan telah shahih dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda :

أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللهِ فِي الأَرْضِ

"Kalian adalah saksi-saksinya Allah di dunia"

Sungguh sekumpulan ulama telah berulang kali menentang As-Syaikh Taqiyyuddin Ibnu Taimiyyah disebabkan beberapa perkara ushul maupun furu' yang mereka ingkari dari Ibnu Taimiyyah. Bahkan telah diadakan beberapa majelis (*untuk mendebat/menyidang) Ibnu Taimiyyah dikarenakan hal tersebut di kota Qohiroh dan Damaskus, akan tetapi tidak diketahui ada seorangpun dari mereka yang berfatwa bahwa ibnu Taimiyyah zindiq atau menghalalkan darah Ibnu Taimiyyah, padahal tatkala sebagian orang-orang kerajaan begitu keras menentang beliau, hingga akhirnya beliau dipenjara di Qohiroh kemudian dipenjara di Damaskus. Meskipun demikian seluruh mereka mengakui keluasan ilmu beliau, tingginya sikap zuhud dan waro' beliau, kedermawanan dan keberanian beliau, serta perkara-perkara yang lain yang merupakan bentuk perjuangan beliau membela Islam dan berdakwah di jalan Allah ta'aala baik secara terang-terangan maupun secara diam-diam.

Maka lantas bagaimana tidak ada pengingkaran terhadap orang yang menyatakan bahwasanya beliau kafir??, bahkan terhadp orang yang mengkafirkan orang yang menamakan Ibnu Taimiyyah sebagai Syaikhul Islam??. Dan tidak ada dalam penamaan beliau dengan Syaikhul Islam menkonsekuensikan pengkafiran. Karena sesungguhnya beliau tanpa diragukan lagi adalah salah seorang Syaikh dari para syaikh-syaikh Islam pada masanya. Dan permasalahan-permasalahan yang diingkari dari beliau tidaklah beliau mengucapkannya dengan hawa nafsu, dan beliau tidaklah bersih keras pendapat dengan permasalahan-permasalahan tersebut kecuali setelah tegaknya dalil-dalil atas pendapat beliau tersebut.

Lihatlah tulisan-tulisan karya beliau penuh dengan bantahan terhadap orang yang menyatakan tajsiimnya Allah dan beliau berlepas diri dari orang tersebut. Meskipun demikian beliau adalah manusia biasa, benar dan bersalah. Dan perkara-perkara yang beliau benar lebih banyak, karenanya diambil faedah dari beliau dan dioakan rahmat Allah bagi beliau. Adapun kesalahan-kesalahan beliau maka tidak boleh ditaqlidi, akan tetapi beliau ma'dzuur (diberi udzur) karena para imam di masa beliau mengakui bahwasanya telah terpenuhi pada beliau sarana-sarana untuk berijtihad. Bahkan orang yang paling menentang beliau dan berusaha memberi kemudhorotan kepada beliau –yaitu Syaikh Jamaaluddin Az-Zamlakaani- juga telah mengakui hal itu (bahwasanya Ibnu Taimiyyah mujtahid). Demikian juga Syaikh Sodruddin bin Al-Wakiil yang tidak ada yang kokoh dalam berdialog dengannya (juga mengakui Ibnu Taimiyyah seorang mujtahid).

Dan yang paling menakjubkan bahwasanya Ibnu Taimiyyah adalah termasuk orang yang paling gigih menentang Ahlul Bid'ah, Syi'ah Rofidhoh, Al-Hululiyah, dan Al-Ittihaadiyah (paham wihdatul wujud). Tulisan-tulisan beliau tentang hal ini banyak dan terkenal, serta fatwa-fatwa beliau tentang mereka tidak terhingga. Maka sungguh akan menyenangkan mereka jika mereka mendengar akan kafirnya Ibnu Taimiyyah, dan sungguh mereka akan bergembira jika mereka melihat ada ahli ilmu yang mengkafirkan ibnu Taimiyyah. Maka wajib bagi orang yang memiliki ilmu dan memiliki akal untuk mengamati perkataan-perkataan Ibnu Taimiyyah dari buku-buku karya beliau yang tersohor. Atau dari Ahlus Sunnah yang tsiqoh (terpercaya) dari kalangan ahli periwayatan/penukilan sehingga ia bisa benar-benar memperoleh perkara-perkara yang ia ingkari dari Ibnu Taimiyyah, lalu hendaknya ia memperingatkan umat dari kesalahan-kesalahan tersebut, dengan maksud untuk memberi nasehat, serta memuji Ibnu Taimiyyah dengan menyebutkan keutamaan-keutamaan beliau pada perkara-perkara yang Ibnu Taimiyyah berada di atas kebenaran, sebagaimana kebiasaan (yang dilakukan pada) para ulama selain Ibnu Taimiyyah (*yaitu kesalahan mereka diperingatkan dengan tetap memuji mereka-pen).

Kalau saja Ibnu Taimiyyah tidak punya keistimewaan yang terpuji kecuali hanya seorang muridnya yang tersohor As-Syaikh Syamsuddin Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah penulis buku-buku yang bermanfaat dan menggembirakan yang telah memberi manfaat kepada kawan dan lawan, maka hal ini sudah sangat cukup untuk menunjukkan agungnya kedudukan Ibnu Taimiyyah.

Lantas bagaimana lagi jika para imam di zamannya dari kalangan madzhab syafiiah dan yang lainnya –apalagi para ulama madzhab hanbali- telah mengakui keterdepanan beliau dalam ilmu-ilmu dan keistimewaan beliau dalam manthuq dan mafhuum. Setelah semua kelebihan ini maka tidaklah dipandang dan tidak dijadikan pegangan orang yang menyatakan bahwa beliau kafir atau kafirnya orang yang menamakan beliau syaikhul Islam. Bahkan wajib untuk mencegahnya dari mengucapkan hal ini hingga ia kembali kepada al-hak dan tunduk kepada kebenaran.

Dan Allah-lah yang berfirman dengan kebenaran dan memberi petunjuk kepada jalan yang lurus, dan cukuplah Allah sebagai penolong bagi kita dan Dialah sebaik-baik tempat bersandar.

Diucapkan dan ditulis oleh Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Hajr AsSyafi'I –semoga Allah memaafkannya- pada hari jum'at tanggal 9 Rabiul Awwal tahun 835 H sambil memuji Allah dan bersholawat dan bersalam kepada Rasulullah Muhammad dan keluarganya)). Demikian kata pengantar yang ditulis oleh Ibnu Hajr Al-'Asqolaani terhadap risalah Ar-Rod Al-Waafir hal 77-79

Sungguh pujian setinggi langit yang diberikan oleh Al-Haafiz Ibnu Hajar kepada Ibnu Taimiyyah. Kesimpulan dari pernyataan-peryataan beliau adalah :

Pertama : Ibnu Taimiyyah berhak untuk digelari Syaikhul Islam, dan gelar ini akan terus lestari. Dan hanya orang dungu saja atau orang yang tidak adil yang mengingkari gelar ini bagi beliau

Kedua : Tidak pernah ada jenazah yang dihadiri dengan jumlah yang begitu banyak sebagaimana janazah Ibnu Taimiyyah. Disebutkan dalam Adz-Dzail 'alaa tobaqoot Al-Hanaabilah (2/407) bahwasanya yang menghadiri janazah Ibnu Taimiyyah tatkala itu sekitar 200 ribu kaum lelaki dan sekitar 15 ribu kaum wanita

Ketiga : Cukuplah satu saja murid beliau –yaitu Ibnul Qoyyim- menjadi bukti akan luas dan dalamnya ilmu Ibnu Taimiyyah.

Keempat : Ibnu Taimiyyah adalah termasuk orang yang paling gigih menentang dan membantah Ahlul Bid'ah dan Syi'ah Roofidhoh

Kelima : Ibnu Taimiyyah diakui oleh lawan-lawannya sebagai seorang mujtahid

Keenam : Lawan-lawan Ibnu Taimiyyah mengakui keterdepanan ilmu beliau, zuhud, waro', kedermawanan, serta keberanian beliau.

Demikianlah diantara keistimewaan-keistimewaan Ibnu Taimiyyah yang disebutkan oleh Ibnu Hajar. Tentunya masih banyak keistimewaan beliau, jihad beliau, serta karomat-karomat beliau sebagaimana termaktub dalam buku-buku yang menjelaskan tentang biografi beliau.



Pujian Ulama Syafi'iyah Selain Ibnu Hajar kepada Ibnu Taimiyyah


Sebagian besar warga muslim Indonesia bermadzhab As-Syafi'iyah, bahkan orang-orang yang memusuhi kaum Wahabi di tanah air kebanyakannya juga mengaku pengikut madzhab Asy-Syafiiyah. Tentunya Ibnu Taimiyyah adalah salah seorang ulama yang dituduh oleh mereka sebagai dedengkot wahabi.

Karenanya saya sangat berharap agar mereka meninjau kembali permusuhan mereka. Lihatlah Ibnu Nashiruddin Ad-Dimasyqi yang membela habis Ibnu Taimiyyah juga dari madzhab Syafiiyah. Kemudian Ibnu Hajar salah seorang ulama terkemuka dari madzhab Syafii juga memuji Ibnu Taimiyyah setinggi langit dan membantah orang yang mencela Ibnu Taimiyyah. Dan masih banyak ulama-ulama syafiiyah yang lainnya yang memuji Ibnu Taimiyyah. Berikut ini saya akan menyampaikan pujian-pujian setinggi langit dari para ulama besar madzhab syafiiyah, agar mereka para pembenci kaum wahabi bisa mencontohi ulama mereka.

Pertama : Al-Haafizh Abul Fath Al-Ya'muri As-Syafii (penulis kitab عُيُوْنُ الأَثَرِ فِي فُنُوْنِ الْمَغَازِي وَالشَّمَائِلِ وّالسِّيَرِ, wafat pada tahun 734 H, lihat Ad-Duror Al-Kaaminah 4/330), beliau berkata :

وَكَادَ يَسْتَوْعِبُ السُّنَنَ وَالآثَارَ حِفْظاً، إِنْ تَكَلَّمَ فِي التَّفْسِيْرِ فَهُوَ حَامِلُ رَايَتِهِ، أَوْ أَفْتَى فِي الْفِقْهِ فَهُوَ مُدْرِكُ غَايَتَهُ، أَوْ ذَاكِرٌ بِالْحَدِيث فهو صاحب علمه وذو روايته، أو حاضر بالنِّحل والملل لم يُر أوسع من نِحْلَتِه في ذلك ولا أرفع من درايته، برز في كل فنٍّ على أبناء جنسه، ولم ترَ عينُ مَن رآه مثلَه، ولا رأتْ عينُه مثلَ نفسِه

"Beliau (*Ibnu Taimiyyah) menguasai hadits-hadits dan atsar-atsar dengan hafalan, jika beliau berbicara tentang tafsir maka beliau adalah pembawa bendera ilmu tafsir, atau jika beliau berfatwa dalam fikih maka beliau tahu puncak ilmu fikih, atau tatkala ia menyebutkan hadits maka beliau adalah pemiliki ilmu hadits dan periwayatannya, atau tatkala menyebutkan tentang ilmu aliran dan agama maka tidak dilihat ada orang yang lebih luas ilmunya daripada beliau dan tidak ada yang lebih tinggi pengetahuannya. Beliau unggul pada seluruh cabang ilmu di atas orang-orang yang sebangsa beliau. Dan orang yang pernah melihatnya tidak pernah melihat orang lain yang semisalnya, dan dia sendiri tidak pernah melihat orang yang seperti dirinya" (Ajwibah Ibni Sayyid An-Naas Al-Ya'muri 'an su'aalaat Ibni Abiik Ad-Dimyathi 2/221 tahqiq DR Muhammad Ar-Rowandi, sebagaimana dinukil dalam Al-Jaami' li Siirh Syaikhil Islaam hal 188)

Kedua : Abul Hajjaaj Yusuf bin Abdirrahman Al-Mizziy As-Syafi'i (salah satu Imam Al-Jarh wa at-Ta'diil, penulis kitab Tahdziibul Kamaal, wafat 742 H)

Beliau berkata :

مَا رَأَيْتُ مِثْلَهُ وَلاَ رَأَى هُوَ مِثْلَ نَفْسِهِ، وَمَا رَأَيْتَ أَحَداً أَعْلَمَ بِكِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِهِ وَلاَ أَتْبَعَ لَهُمَا مِنْهُ

"Aku tidak pernah melihat yang seperti beliau, dan dia sendiri tidak pernah melihat orang yang semisalnya, dan aku tidak pernah melihat seorangpun lebih berilmu tentang al-Qur'an dan sunnah Rasulullah dan lebih menjalankan Al-Qur'an As-Sunnah daripada dia" (Tobaqoot Ulamaa Al-Hadiits 4/283)

Ketiga : Kamaaluddin Abul Ma'aali Muhammad bin Ali Az-Zamlakaani As-Syafi'i (wafat 728 H), beliu berkata :

كَانَ إِذَا سُئِلَ عَنْ فَنٍّ مِنَ الْعِلْمِ ظَنَّ الرَّائِي وَالسَّامِعُ أَنَّهُ لاَ يَعِرْفُ غَيْرَ ذَلِكَ الْفَنِّ

"Jika Ibnu Taimiyyah ditanya tentang salah satu cabang ilmu maka orang yang melihat dan mendengar (jawabannya) menyangka bahwa Ibnu Taimiyyah tidak mengetahui cabang ilmu yang lain" (Syadzaroot Adz-Dzahab 8/144), maksud beliau yaitu karena terlalu hebatnya Ibnu Taimiyyah dalam bidang ilmu tersebut, sehingga seakan-akan Ibnu Taimiyyah menghabiskan umurnya untuk mempelajari satu bidang ilmu saja dan tidak mempelajari bidang ilmu-ilmu yang lain. Akan tetapi ternyata kehebatan ini berlaku pada seluruh bidang ilmu.

Az-Zamlakaani memuji Ibnu Taimiyyah dalam syairnya :

هُوَ حُجَّةٌ لله قَاهِرَة    هُوَ بَيْنَنَا أُعْجُوْبَة ُالدَّهْرِ

"Dia adalah hujjah milik Allah yang menguasai…..dia diantara kita adalah keajaiban zaman"

Imam Ibnu Katsiir As-Syafii menyebutkan bahwasanya Az-Zamlakaani memuji Ibnu Taimiyyah dengan syair ini padahal tatkala itu umur Ibnu Taimiyyah sekitar 30 tahun (lihat Al-Bidaayah wa an-Nihaayah 18/298)

Keempat : Abu Hayyaan Al-Andalusi An-Nahwi As-Syafi'i, penulis kitab tafsir Al-Bahr Al-Muhiith, dahulunya beliau bermadzhab Maliki kemudian berpindah ke madzhab As-Syafii dan mengarang sebuah kitab yang berjudul  الوَهَّاجُ فِي اخْتِصَارِ الْمِنْهَاجِ لِلنَّوَوِي (lihat muqoddimah tafsiir al-Bahr Al-Muhiith 1/57),   wafat tahun 745 H. Beliau pernah berkata ; "Kedua mataku tidak pernah melihat yang semisal Ibnu Taimiyyah", lalu beliau memuji Ibnu Taimiyyah dalam untaian syairnya, diantaranya beliau berkata :

قام ابنُ تيمية في نصر شِرْعَتِنَا     مَقامَ سَيِّدِ تَيْمٍ إذْ عَصَتْ مُضَرُ

فأظهرَ الحقَّ إذْ آثارُهُ دَرَستْ     وأخمدَ الشَّرَّ إذ طارتْ له الشَّرَرُ

"Tegaklah Ibnu Taimiyyah dalam memperjuangkan syari'at kita…

Sebagaimana Pemimpin Kabilah Taimi (yaitu Abu Bakar As-Shiddiq) tatkala kabilah Mudhor membangkang (menjadi murtad)

Maka Ibnu Taimiyyahpun menampakan kebenaran tatkala atsar dari kebenaran telah lenyap…

Dan iapun memadamkan keburukan seteleh keburukan merajalela"


Kelima : Adz-Dzhabi As-Syaafii, beliau berkata ;

فَلَوْ حَلَفْتُ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ، لَحَلَفْتُ: أَنِّي مَا رَأَيْتُ بِعَيْنَيَّ مِثْلَهُ، وَأَنَّهُ مَا رَأَى مِثْلَ نَفْسِهِ

"Kalau aku bersumpah diantara hajar aswad dan maqom Ibrahim maka aku sungguh akan bersumpah : Aku tidak pernah melihat dengan dua mataku ini yang semisal Ibnu Taimiyyah, dan diapun tidak pernah melihat yang semisal dirinya" (Adz-Dzail 'alaa Tobaqoot Al-Hanaabilah karya Ibnu Rojab 2/390)

Keenam : Ibnu Daqiiq Al-'Ieed As-Syafii, beliau pernah ditanya tentang Ibnu Taimiyyah setelah bertemu dengan Ibnu Taimiyyah, maka beliau berkata :

رَأَيْتُ رَجُلاً سَائِرُ الْعُلُوْمِ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، يَأْخُذُ مَا شَاءَ مِنْهَا وَيَتْرُكُ مَا شَاءَ

"Aku telah melihat seorang yang seluruh ilmu berada di hadapan kedua matanya, ia mengambil apa yang dia sukai dari ilmu-ilmu tersebut dan meninggalkan apa yang ia sukai" (Syadzaroot Adz-Dzahab 8/146)

Ketujuh : 'Imaadudiin Ahmad bin Ibrahim, Syaikh Al-Hazzamiyah Al-Washithy Asy-Syafi'i (wafat 711 H), beliau berkata :

"Demi Allah kemudian demi Allah  kemudian demi Allah tidak pernah terlihat dibawah langit ini yang seperti guru kalian Ibnu Taimiyyah dari sisi ilmu, amal, kondisi, akhlak, itiibaa', kedermawanan, kebijaksanaan, dan penegakan terhadap hak Allah ta'aala tatkala dilanggar keharaman. Beliau adalah orang paling benar aqidahnya dan yang paling benar ilmu dan tekadnya, dan yang paling semangat dan paling cepat dalam membela kebenaran dan menegakkannya, dan orang yang tangannya paling pemurah, dan yang paling sempurna ittiba'nya (keteladanannya) kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Kami tidak pernah melihat di zaman kami ini seseorang yang nampak kenabian muhammadiah serta sunnah-sunnahnya dari perkataan dan perbuatannya kecuali orang ini (Ibnu Taimiyyah), dan hati yang bersih mempersaksikan bahwasanya ini adalah ittibaa' yang sesungguhnya" (Syadzaroot Adz-Dzahab 8/144)

Kedelapan : Abdullah bin Hamid As-Syafii, beliau pernah menulis kepada Abdullah bin Rusyaiq (warrooq/penulis Ibnu Taimiyyah/semacam sekertaris), ia berkata :

"Dan sebelum saya menemukan pembahasan-pembahasan Imam Dunia (*Ibnu Taimiyyah) rahimahullah, saya telah menelaah kitab-kitab para penulis terdahulu, dan aku telah melihat perkataan para mutaakhirin dari kalangan ahli filsafat, maka aku mendapatinya terdapat kebatilan-kebatilan dan keraguan-keraguan yang tidak pantas untuk terbetik di hati seorang muslim yang lemah apalagi seorang yang agamanya kuat. Sungguh meletihkan dan menyedihkan hatiku tatkala aku melihat orang-orang besar bisa terbawa ke pemikiran-pemikiran yang lemah dan rendah yang pemeluk umat ini tidak akan meyakini kebenarannya. Akupun memeriksa sunnah yang murni di buku-buku para ahli filsafat pengikut madzhab Imam Ahmad secara khusus karena mereka tersohor dengan keteguhan mereka memegang perkataan-perkataan Imam mereka (Imam Ahmad) dalam masalah pokok-pokok aqidah, akan tetapi aku tidak mendapatkan dari mereka apa yang mencukupi. Aku melihat mereka kontradikisi tatkala mereka menetapkan landasan-landasan yang ternyata bertentangan dengan apa yang mereka yakini. Atau mereka meyakini perkara yang bertentangan dengan konsekuensi dari dalil-dalil mereka. Jika aku mengumpulkan antara pendapat-pendapat Mu'tzilah, Asya'iroh, dan Hanabilah Baghdad, serta Karomiyahnya Khurosaan maka aku melihat bahwasanya ijmaak (consensus) para ahli filsafat dalam satu permasalahan bertentangan dengan apa yang ditunjukkan oleh dalil akal dan naql (Al-Qur'an dan As-Sunnah), maka hal ini membuat aku tidak suka dan menjadikanku bersedih dengan kesedihan yang tidak mengetahui hakekat kesedihanku kecuali Allah. Hingga akupun menderita tatkala menghadapi perkara ini dengan penderitaan yang sangat berat, yang aku tidak mampu untuk menjelaskan sedikit penderitaanku itu.

Akupun bersandar kepada Allah ta'aala dan aku merendah kepadaNya, lalu aku berlari ke lahiriahnya nas-nas dan aku menemukan pemikiran-pemikiran yang berbeda-beda dan demikian pula takwilan-takwilan yang dibuat-buat, maka fitroh ini tidak mau menerimanya. Lalu fitrohku bergantung kepada kebenaran yang jelas dalam pokok-pokok permasalahan, akan tetapi aku tidak berani terang-terangan untuk berpendapat dan menancapkan aqidahku diatasnya karena aku tidak menemukan adanya atsar dari para imam dan para salaf terdahulu. Hingga akhirnya Allah mentaqdirkan aku untuk menemukan kitab-kitab karya Imam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelang wafatnya beliau. Maka aku mendapatkan di dalamnya sesuatu yang menakjubkanku dimana fitrohku sepakat dengan apa yang terdapat di dalamnya, serta penyandaran kebenaran kepada para imam sunnah dan para salaf, disertai dengan keserasian antara akal dan dalil. Maka akupun terpaku karena sangat senang dengan kebenaran, dan gembira dengan ditemukannya apa yang aku cari-cari yang jika hilang maka tidak ada gantinya. Maka jadilah kecintaan terhadap Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjadi sesuatu yang harus, yang aku tidak mampu untuk mengungkapkan kecintaanku kepadanya meskipun hanya sedikit, walaupun aku sudah berusaha dengan sebaik-baiknya" (Risaalah min Abdillah bin Haamid ilaa Abdillah bin Rusyaiq, dan risalah ini terlampirkan dalam kitab al-'Uquud ad-Durriyah hal 307)

Kesembilan : Ibnu Katsiir (penulis kitab Tafsiir Al-Qur'aan al-'Adziim). Beliau berkata :"Telah ditulis banyak buku tentang biografi beliau, dan sejumlah dari kalangan orang-orang yang mulia dan selain mereka juga menulis biografi beliau. Dan kami akan menuliskan biografi singkat tentang manaqib beliau, keutamaan-keutamaan beliau, keberanian, kedermawanan, nasehat beliau, zuhudnya beliau, ibadah beliau, ilmu beliau yang banyak…" (Al-Bidaayah wa An-Nihaayah 18/302)

Kota Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-, 19-01-1433 H / 14 Desember 2011 M
Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja
Cahaya Sunnah On Jumat, 09 Desember 2011
Cukup tersentak hati saya tatkala membaca pernyataan-pernyataan berani yang diungkapkan oleh Prof DR Kiyai Haji Said Aqiel Siradj, MA, sebagaimana yang diberitakan dalam www.voa-islam.com. Pernyataan-pernyataan tersebut adalah:

Pertama : Pernyataan beliau bahwa syi'ah di Indonesia tidak berbahaya, sebagaimana bisa dilihat di (http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2011/12/06/16929/aneh-said-agil-siraj-bilang-syiah-di-indonesia-tidak-berbahaya/)

Dan ternyata memang beliau pernah bertemu dan menyambut tokoh syi'ah Hasan Nasrullah, silahkan lihat (http://www.dp-news.com/pages/detail.aspx?articleid=57160). Demikian pula beliau pernah menjadi pembicara tingkat internasional di Teheran (pusatnya Syi'ah Roafidhoh) selama dua kali, pada tahun 1999 dengan materi : Al-Taqriib baina al-Madzaahib, Al-Islam al-din al-tasamuh (Pendekatan antara madzhab-madzhab, Islam adalah agama toleransi), dan pada tahun 2000 dengan materi : Al-Taqriib baina al-Madzaahib, Huquq al-Insan fi al-Islam (Pendekatan antara madzhab-madzhab, Hak-hak manusia dalam Islam). Silahkan lihat (http://nubinong.blogspot.com/2010/03/riwayat-hidup-prof-dr-kh-said-aqiel.html). Selain itu beliau juga memberi kata pengantar dan menganjurkan masyarakat muslim Indonesia untuk membaca sebuah buku yang berisi banyak kedustaan karya Idahram, yang dalam buku tersebut sang penulis (Idahram) berkata :  "Dalam Islam sedikitnya ada tujuh madzhab yang pernah dikenal, yaitu madzhab Imam Ja'far As-Shiddiq (madzhab Ahlul Bait), madzhab Imam Abu Hanifah An-Nu'man, madzhab Imam Malik ibnu Anas, madzhab Imam As-Syafii, madzhab Imam Ahmad Ibnu Hanbal, madzhab Syi'ah Imamiah, dan madzhab Dawud Azh-Zhahiri. Sedangkan madzhab salaf tidak pernah ada"

Kedua : Penyamaan beliau antara trinitas ortodoks Kristen dengan tauhid Islam, sebagaimana bisa dilihat di (http://www.voa-islam.com/counter/christology/2011/10/06/16278/koreksi-aqidah-kh-said-aqil-sirajd-jangan-samakan-tauhid-islam-dengan-trinitas-kristen/), lihat juga (http://www.voa-islam.com/news/citizens-jurnalism/2011/11/24/16804/santri-menggugat-kenuan-ketua-umum-pbnu-kh-said-aqiel-siradj)


Ketiga : Pernyataan beliau bahwasanya salafy wahabi penebar terorisme, sebagaimana bisa dilihat di (http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2011/12/07/16943/ketum-pbnu-said-aqil-siradj-melempar-fitnah-ustadz-membalas-tausiyah/), lihat juga (http://nahimunkar.com/9926/kayak-bocah-bercerita-gendruwo-saja-said-agil-siradj-menuding-yayasan-yayasan-islam/)


Beliau DR Said Aqiel Siroj telah menghabiskan banyak usia beliau untuk mendalami bidang aqidah di karajaan Arab Saudi. Dari S1 hingga S3 beliau menuntut ilmu di Arab Saudi dan di bidang ushuul ad-diin (aqidah).

-         S1, beliau tempuh Universitas King Abdul Aziz, Jurusan Ushuluddin dan Dakwah, tamat 1982.

-         S2 beliau tempuh Universitas Ummu al-Qura, jurusan Perbandingan Agama, tamat 1987, dengan tesis yang berjudul رَسَائِلُ الرُّسُلِ وَأَثَرُهَا فِي انْحِرَافِ الْمَسِيْحِيَّةِ (Pengaruh Surat-Surat para rasul dalam Bibel terhadap penyimpangan Agama Kristen).

-         S3 Universitas Ummu al-Qura, jurusan Aqidah/Filsafat Islam, tamat 1414 H (1994 M), dengan judul disertasi : صِلَةُ اللهِ بِالْكَوْنِ فِي التَّصَوُّفِ الْفَلْسَفِي (Hubungan antara Allah dan alam menurut perspektif tasawwuf falsafi), yang disertasi beliau ini dibimbing oleh dosen beliau yang bernama As-Syaikh DR. Mahmuud Ahmad Khofaaji

Dari sini kita tahu bahwasanya beliau ini adalah seorang yang pakar dalam bidang aqidah, baik dalam memahami kesesatan kaum Kristen maupun kesesatan kaum sufi.

Berikut ini saya terjemahkan muqoddimah dari disertasi doktoral yang ditulis oleh Prof DR Said Aqiel Siraj (Desertasi tersebut bisa di download di http://resalty.waqfeya.com/index.php/category-96/thesis-51).

Muqoddimah ini sangat layak untuk dibaca kembali oleh penulisnya sendiri, yang merupakan nasehat yang sangat indah bagi sang penulis sendiri dan juga kaum muslimin di tanah air, terutama kaum yang dipimpin oleh beliau sekarang. Hal ini mengingat dalam muqoddimah disertasi tersebut beliau (Prof DR Said Aqiel Siradj) telah mentaqrir dan menetapkan landasan-landasan aqidah salaf, karena memang desertasi tersebut beliau tulis untuk membantah kaum sufi. Terlebih lagi dalam desertasi tersebut beliau sering menukil perkataan-perkataan Ibnu Taimiyyah untuk membantah pemikiran sufiah. Semoga bermanfaat bagi kaum muslimin Indonesia.


DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :

"Islam menolak segala bentuk kesyirikan, dan menolak perantara-perantara antara Allah dan manusia kecuali perantara kenabian dan kerasulan, dengan demikian Islam menetapkan keterpisahan yang sempurna antara Allah dan yang lainNya, antara Pencipta dan Makhluk, bahkan malaikat tidak terhubungkan dengan Allah melalui hubungan apapun selain hubungan yang tegak antara Allah dengan makhluk yang lain baik yang materi maupun ruh, yaitu hubungan antara makhluk dan Penciptanya, yaitu hubungan keterpisahan dan bukan hubungan ketersambungan"

Komentar :

Pernyataan Kiyai Haji Prof DR di atas persis sama dengan penjelasan Ibnu Taimiyyah dan Muhammad bin Abdil Wahhaab rahimahumallah, bahwasanya Allah tidak butuh kepada washitoh (perantara) dalam penyembahan dan dalam meminta manfaat dan menolak mudhorot. Menjadikan washitoh (perantara) kepada Allah merupakan kesyirikan. Yang ada hanyalah perantaraan dalam hal risalah dan kenabian, yaitu para nabi dan para rasul merupakan perantara antara Allah dan manusia dalam menyampaikan risalah/wahyu Allah ta'alaa. 

Ibnu Taimiyyah berkata : "Dan hal ini merupakan perkara yang disepakati oleh seluruh pemeluk agama dari kalangan kaum muslimin, yahudi, dan nashrani, mereka menetapkan adanya perantara antara Allah dengan hamba-hambaNya. Perantara-perantara tersebut adalah para Rasul yang mereka menyampaikan dari Allah perintah Allah dan khabar dari Allah…."

Beliau juga berkata, "Adapun jika yang dimaksudkan dengan perantara adalah bahwasanya harus ada perantara dalam mendatangkan manfaat-manfaat dan menolak kemudorotan, seperti perantara dalam mendatangkan rizki para hamba, dan pertolongan kepada mereka dan hidayah untuk mereka, yang mereka meminta hal-hal tersebut kepada perantara ini dan mengharap kepada perantara ini maka ini merupakan kesyirikan yang paling besar yang karena kesyirikan inilah Allah mengkafirkan kaum musyrikin (Arab), dimana mereka menjadikan selain Allah sebagai penolong-penolong mereka dan para pemberi syafaat kepada mereka" (Majmuu' al-Fataawaa 1/122-123). Adapun perkataan Muhammad bin Abdil Wahhaab yang semakna dengan ini maka bisa dibaca di risalah beliau "Kasyf Asy-Syubhaat"


DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :

"Dan jika kita mengamati Al-Qur'aan Al-Kariim maka kita akan mendapati Al-Quran menekankan keterpisahan yang sempurna ini, maka tidak ada sesuatupun yang berfungsi sebagai suatu perantara antara Allah dan makhlukNya. Sebagaimana Al-Qur'an berkali-kali dan berulang-ulang menafikan sifat uluhiyah dari selain Allah ta'aala dengan penafian secara mutlak, dan menekankan bahwasanya para nabi dan para rasul mereka dari golongan manusia dan dari tabi'at manusia. Inilah yang ditetapkan oleh rukun Islam yang pertama yaitu Syahadah (Persaksian) bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah melainkan Allah dan bahwasanya Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya. Dan ini adalah syahadah penafian dan penetapan (itsbaat), menafikan secara mutlak uluhiah (ketuhanan) dari selain Allah dan tidak ditetapkan kecuali hanya untuk Allah semata, dan menetapkan bahwasanya Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya, dan Muhammad adalah manusia sebagaimana seluruh manusia (*yang lain). Dan seluruh perbedaan antara Muhammad dan mereka adalah beliau diberi wahyu aqidah tauhid"


Komentar :

Dalam paragraf ini DR Said menekankan perkara yang sangat penting yaitu tentang aqidah yang benar terhadap Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwasanya beliau adalah manusia biasa sebagaimana seluruh manusia yang lain yang memiliki tabi'at manusia. Yang membedakan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan manusia yang lain hanyalah Nabi telah diberi wahyu berupa aqidah tauhid. Hal ini tentunya bertentangan dengan keyakinan sebagian kaum sufi yang terlalu berlebih-lebihan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. (silahkan lihat http://www.firanda.com/index.php/artikel/aqidah/116-berlebih-lebihan-kepada-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam-hingga-mengangkat-beliau-pada-derajat-ketuhanan)


DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :


"Dan aqidah tauhid yang dibawa oleh Islam menolak seluruh kesyirikan, sama saja apakah kesyirikan yang tegak di atas pendapat berbilangnya Tuhan atau kesyirikan yang dibangun di atas keimanan kepada adanya perantara-perantara antara Allah dan manusia. Dari situ maka hubungan antara Allah dengan alam –termasuk di dalamnya adalah manusia- adalah hubungan keterpisahan. Allah maha Esa tidak ada syarikat baginya, terpisah dari alam dengan keterpisahan yang sempurna dengan ke-Esa-anNya dalam Dzatnya, sifat-sifatNya, dan perbuatan-perbuatanNya, dan Allah tersucikan dari seluruh bentuk penyamaan dengan makhluk-makhlukNya.

Aqidah ini dialah aqidah yang telah disepakati oleh seluruh kaum muslimin, baik salaf mereka (*golongan terdahulu) maupun kholaf mereka (*golongan belakangan), kecuali sufiah filsafat, sebagaimana akan kita lihat di tengah lembaran-lembaran pembahasan ini"

Komentar :

Dalam paragraph ini kembali DR Said Aqiel menekankan bahwasanya Islam menolak segala bentuk kesyirikan. Dan bentuk-bentuk kesyirikan ada dua:

Pertama : Dengan menjadikan Tuhan berbilang, sebagaimana trinitasnya kaum Nasrani, dan juga dewa-dewa Kaum Hindu.

Kedua : Menjadikan perantara antara Allah dan manusia. Hal ini sebagaimana keysirikan kaum musyrikin Arab (silahkan lihat kembali : http://www.firanda.com/index.php/artikel/bantahan/126-bantahan-terhadap-abu-salafy-seri-5-hakikat-kesyirikan-kaum-muysrikin-arab)


DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :



"Kemudian Islam adalah berpegang teguh dengan perintah-perintah Allah dan perintah-perintah RasulNya shallallahu 'alaihi wa sallam dan menjauhi apa yang dilarang oleh Allah dan RasulNya, dan meneladani kehidupan Rasulullah dan mengikuti jalan-jalan dan sunnah-sunnah yang telah ditempuh oleh para sahabatnya –semoga Allah meridhoi mereka-

Allah berfirman : "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat" (QS Al-Ahzaab : 21)

Dan Allah ta'aala juga berfirman : "Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah" (QS Al-Hasyr : 7)

Allah juga berfirman : "Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling dari pada-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya)" (QS Al-Anfaal : 20)"

Komentar :

Dalam paragraf ini DR Said Aqiel menekankan untuk mengikuti jalan para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, bahkan beliau mendoaakan para sahabat agara diridhoi oleh Allah. Dan ini tentunya bertentangan dengan aqidah Syi'ah yang justru berdoa agar Allah melaknat para sahabat dan juga mengkafirkan para sahabat.


DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :


Dan perintah-perintah Allah dan RasulNya –demikian pula larangan-larangan Allah dan RasulNya- terjaga dalam Al-Qur'an Al-Kariim dan Sunnah-sunnah Nabi yang mulia. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Aku meninggalkan pada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang teguh dengan kedua perkara tersebut, yaitu kitabullah dan sunnah NabiNya"

Komentar :

Dalam paragraf ini DR Said Aqiel menegaskan akan pentingnya berlandaskan kepada Al-Qur'an dan Sunnah-Sunnah Nabi, yang keduanya merupakan sumber hukum kaum muslimin. Hal ini tentunya berbeda dengan:

-         Keyakinan sebagian kaum sufi yang terkadang berdalil dengan kisah-kisah…yang tidak tahu juntrung keabsahannya. Tidak jarang berupa cerita-cerita karomah yang masih dipertanyakan akan kevalidannya lantas cerita-cerita tersebut dijadikan dalil utama sehingga ditolaklah pendalilan dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah

-         Sikap sebagian sufi yang taklid buta kepada gurunya, meskipun pemikiran-pemikiran gurunya bertentangan dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Sehingga seakan-akan perkataan gurunya merupakan salah satu sumber hukum

DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :


"Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah mentarbiah (membina) para sahabatnya dibawah naungan dan petunjuk kitabullah dan sunnahnya, yaitu dengan tarbiah percontohan agar mereka menjadi teladan bagi orang-orang yang datang setelah mereka hingga hari kiamat. Maka mereka adalah praktek nyata (hidup) dari ajaran-ajaran Allah dan arahan-arahan RasulNya. Mereka berittiba' dan meneladani serta tidak melakukan bid'ah dan mengada-ngadakan. Mereka adalah para wali-wali Allah yang tidak kawatir dan tidak bersedih. Mereka adalah teladan dan tolak ukur untuk mengenal al-haq (kebenaran) dari kebatilan, dan untuk membedakan petunjuk dari kesesatan".

Komentar :

Dalam paragraf ini beliau menekankan kembali akan mulianya para sahabat dari beberapa sisi:

Pertama : Para sahabat telah ditarbiyah/dibina dan dididik langsung oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Tentunya guru sangat berpengaruh kepada murid-muridnya

Kedua : Tarbiyah tersebut berdasarkan naungan dan cahaya al-Qur'an dan as-Sunnah

Ketiga : Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mentarbiyah para sahabat dengan tarbiyah khusus yaitu tarbiyah percontohan, dengan maksud agar para sahabat menjadi contoh bagi generasi-generasi setelah mereka

Keempat : Amalan para sahabat adalah praktek hidup/nyata terhadap ajaran Al-Qur'an dan sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Hal ini tentu sangatlah jelas ditinjau dari beberapa sisi

-         Para sahabatlah yang paham tentang maksud Allah dan RasulNya.

-         Ayat-ayat al-Qur'an yang pertama kali mempraktekannya adalah para sahabat.

-         Tatkala para sahabat menerapkan ayat-ayat Allah mereka dibimbing langsung oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, sehingga jika mereka salah praktek, atau salah paham tentang Al-Qur'an maka akan ditegur langsung oleh Allah atau melalui Rasulullah yang merupakan guru dan pengawas mereka

Kelima : Para sahabat tidak melakukan bid'ah dan tidak mengadakan perkara-perkara baru dalam agama, akan tetapi mereka meneladani guru mereka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

Keenam : Para sahabat adalah wali-wali Allah…maka yang memusuhi dan membenci mereka…apalagi mengkafirkan mereka tentunya wali-wali syaitan

Ketujuh : (Dan ini merupakan poin yang terpenting) yaitu DR Said Aqiel menjelaskan bahwa para sahabat adalah tolak ukur kebenaran, sehingga terbedakan hak dari kebatilan, dan terbedakan petunjuk dari kesesatan.

Sungguh ini adalah manhaj yang selalu dan senantiasa diserukan dan dipropagandakan oleh kaum wahabi (salafy) yaitu agar kembali kepada pemahaman dan manhaj para sahabat yang jauh dari bid'ah dan perkara-perkara baru dalam agama.

Dan inilah juga yang selalu diserukan oleh kaum yang disebut-disebut oleh orang yang memusuhinya “Salafy wahabi” agar senantiasa mencintai para sahabat dan memusuhi orang-orang yang membenci (bahkan mengkafirkan) para sahabat seperti kaum syi'ah. Jika para sahabat yang sedemikian mulianya (sebagaimana penjabaran DR Said Aqiel diatas) itu saja dikafirkan maka bagaimana lagi dengan para pengikut mereka yang jauh dari kemuliaan para sahabat Nabi radhiallahu 'anhum.

DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :


"Dan dibawah cahaya al-kitab dan as-sunnah dan siroh Rasulullah serta amalan para sahabatnya ditimbang amalan-amalan kaum muslimin dan perkataan mereka. Maka apa yang ada sandarannya dan dalil maka dihukumi dengan amalan/perkataan yang sah dan benar. "Dan apa yang menyelisihi al-kitab dan as-sunnah dan tidak atsarnya dalam kehidupan para sahabat maka dihukumi dengan fasad (rusak) dan batil. Dan semua yang keluar dari manhaj ini maka sungguh telah sesat dan menyesatkan".

Komentar :

Dalam paragraf ini kembali DR Said Aqiel menekankan akan pentingnya manhaj salaf yaitu manhaj yang berlandaskan kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah berdasarkan pemahaman para sahabat. Beliau juga kembali menegaskan bahwa seluruh perkataan/pendapat dan amal perbuatan manusia harus ditimbang di atas manhaj salaf ini. Jika ada suatu pemikiran atau amal perbuatan yang tidak diriwayatkan ada di masa kehidupan para sahabat maka pemikiran dan amal perbuatan tersebut batil. Ini merupakan seruan yang tegas dari beliau kepada kaum muslimin –terutama di Indonesia- untuk kembali menimbang amal-amalan yang sering mereka lakukan. Apakah amalan-amalan tersebut pernah dilakukan dan diamalkan oleh para sahabat??, jika tidak pernah maka hal itu adalah batil dan sesat, bahkan pelakunya sesat dan menyesatkan.


DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :


"Dan tatkala saya adalah salah seorang mahasiswa di jurusan Aqidah saya melihat bahwasanya merupakan kewajiban atas saya untuk mencari-cari/mengikuti dan menyelidiki manhaj-manhaj yang sesat dan jauh dari al-kitab dan as-sunnah. Dan telah beberapa lama saya menyelidiki manhaj-manhaj tersebut untuk saya jelaskan penyimpangan dan kesesatannya dan jauhnya manhaj tersebut dari Islam. Termasuk merupakan perkara yang menyusahkan dan menggelisahkan aku adalah apa yang aku dapati dari manhaj-manhaj para sufi ahli filsafat yang mereka telah jauh dari Islam, yaitu tentang pemahaman mereka tentang hubungan alam dengan penciptanya, dengan pemikiran-pemikiran mereka yang sesat berupa hulul dan ittihad dan wihdatul wujud (yiatu hulul/menempatinya Allah ke alam, dan ittihad/menyatunya alam dengan Allah, dan wihdah/kesatuan alam bersama Allah), yang hal itu melalui metode filsafat al-fanaa' dan fanaa al-fanaa, dan seluruhnya merupakan pemikiran-pemikiran yang aneh dan muhdatsah (diada-adakan) serta menyusup di tengah-tengah masyarakat islami"

Komentar :

Dalam paragraf ini DR Said Aqiel memaparkan bagaimana semangat beliau untuk bernahi mungkar. Beliau terpanggil bahkan beliau merasa wajib untuk mengikuti dan menyelidiki manhaj-manhaj yang sesat. Bahkan sangat menggelisahkan beliau kesesatan yang terdapat dalam manhaj kaum sufi philosofi, yang kesesatan ini merupakan perkara muhdats (bid'ah) yang telah menyusup dalam masyarakat islam.

DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :


"Dan permulaan munculnya pemikiran filsafat sesat tersebut di akhir-akhir abad kedua hijriah. Lalu berkembang dengan pesat di tengah abad ketiga hijriah. Dimulai dari Jabir bin Hayyan dan Abu Hasyim dan Abduk hingga Ibnu 'Arobi sang fhilosofi besar, Al-Ghunushy Al-Khothiir, dan melewati Dzu An-Nuun Al-Mishriy, Abi Yaziid Al-Busthoomy, Al-Hallaaj, Al-Junaid, An-Nafary, Al-Gozhaaly, lalu As-Sahrowardi yang terbunuh".

Komentar :

Dalam paragaf ini beliau menjelaskan tentang tokoh-tokoh sufi filsafat yang memiliki pemahaman sesat wihdatul wujud. Yang diantara tokoh-tokoh tersebut ada yang digandrungi oleh kaum sufi di Indonesia. Diantaranya adalah Ibnu 'Arobi dan Al-Ghozali.

Adapun Ibnu 'Arobi maka DR Said Aqiel telah menjelaskan kesesatannya dalam disertasinya tersebut pada hal 446 hingga hal 450. Beliau menjelaskan tentang pemikiran Ibnu Arobi dalam dua kitabnya yang berisikan tentang pemikiran wihdatul wujud (bersatunya Allah dengan alam). Kitab yang pertama adalah kitab Al-Futuhaat Al-Makkiyah, yang dimana Ibnu Arobi mengaku bahwa apa yang dituliskannya dalam kitab tersebut adalah wahyu dan didikte oleh Allah. Adapun kitab yang kedua adalah Fushus Al-Hikam maka Ibnu Arobi mengaku bahwa kitab tersebut datangnya dari Rasulullah. Dalam kitab Fushus Al-Hikam inilah Ibnu Arobi mengatakan bahwa Fir'aun adalah orang beriman dan masuk surga !!, hal ini karena tatkala Fir'aun mengatakan :"Aku adalah Tuhan kalian yang maha tinggi" menunjukan bahwa Fir'aun paham bahwasanya Allah telah bersatu dengan alam, telah bersatu dengan dirinya. Jadi perkataan Fir'aun tersebut adalah perkataan yang hak dan benar

Adapun Abu Hamid Al-Ghozaali, maka kesesatannya tentang pemahaman wahdatul Wujud telah dijelaskan oleh DR Said Aqiel Siraj dalam disertasinya pada hal 168 hingga hal 172. Pemikiran wihdatul wujud Al-Ghozaali sangat nampak dalam kitabnya Ihyaa Uluumiddiin (yang kitab ini sangat digandrungi oleh kaum sufi di Indonesia) dan kitabnya Misykaat al-Anwaar. Adapun bantahan terhadap pemikiran Al-Ghozali ini maka telah ditulis dengan panjang lebar oleh DR Said Aqiel dalam disertasinya dari hal 199 hingga hal 221.

DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :


"Dan merupakan perkara yang diketahui bahwasanya kaum muslimin di Indonesia menghadapi problematika-problematika besar baik problematika politik, ekonomi, social dan problematika aqidah. Di hadapan mereka musuh-musuh mereka yang menanti-nanti (*keburukan bagi) kaum muslimin berupa gerakan kristenisasi, sekuler, bathiniyah, dan sekte-sekte sesat –Syi'ah, Ahmadiyah, dan Bahaaiyah, lalu Sufiyah"

Komentar :

Pada paragraf ini DR Said Aqiel menegaskan bahwasanya diantara musuh-musuh kaum muslimin Indonesia adalah gerakan kristenisasi dan sekuler. Selain itu juga sekte-sekte yang sesat seperti Syi'ah dan Ahmadiyah qodyaniah. Dan musuh kaum muslimin Indonesia yang terakhir beliau sebutkan adalah kaum sufi.

Ini merupakan nasehat yang sangat penting dari beliau akan bahayanya kaum Syi'ah dan kaum Sufi, karena mereka adalah musuh-musuh yang senantiasa menanti-nanti keburukan kaum muslimin Indonesia.


DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :


"Dan sufiyah di Indonesia sungguh telah sukses besar dalam menyebarkan ajaran-ajaran mereka yang sesat -meskipun kebanyakan mereka tidak beriman dengan aqidah hulul dan ittihad serta wihdatul wujud-. Dan ajaran sufiah ini senantiasa masih termasuk ajaran yang paling berbahaya yang tersebar di negeri Indonesia, hal ini disebabkan kejahilan kaum muslimin di Indonesia terhadap aqidah yang benar"

Komentar :


Pada paraghraf ini, beliau menyatakan bahwa kaum sufi telah sukses besar dalam menyebarkan pemahaman dan ajaran-ajaran mereka di Indonesia. Namun timbul pertanyaan di benak saya, "Siapakah kaum sufi dimaksud oleh beliau??, yang telah berhasil menyebarkan ajaran mereka ke penjuru Indoesia??", Apakah maksud beliau gerakan Muhammadiah?, ataukah Persis?, ataukah NU (Nahdatul Ulama) yang sedang beliau pimpin sekarang ini?, ataukah yang lainnya?. Semoga beliau bisa menjelaskan hal ini, dan semoga para pembaca juga mungkin bisa membantu menjelaskan maksud beliau. Terlebih lagi ada tariqah mu'tabar yang berada di bawah naungan NU, lihat (http://nu.or.id/page/id/dinamic_detil/1/34341/Warta/Habib_Luthfy__Pengurus_Thoriqoh_jangan_Seperti_Krupuk___.html) dan (http://alfiananda.wordpress.com/2010/07/17/thariqah-al-mutabarah-dari-waktu-ke-waktu/, dan http://alfiananda.wordpress.com/2010/07/23/lambang-jam%E2%80%99iyyah-ahlith-thoriqoh-al-mu%E2%80%99tabarah-an-nahdliyyah/, serta lihat komentar DR Said Aqiel tentang tasawwuf di http://nu.or.id/page/id/dinamic_detil/12/34786/Buku/Urgensi_Tasawuf_di_Era_Globalisasi.html

Dan saya sangat setuju dengan pendapat beliau bahwa ajaran-ajaran sesat seperti ini tersebar disebabkan karena kejahilan kaum muslim di Indonesia terhadap akidah yang benar sehingga mudah mereka terjangkiti ajaran-ajaran sufiah.


DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :


"Dikarenakan hal ini seluruhnya dan setelah aku menulis tesisku untuk meraih gelar Master di bidang aqidah tentang bantahan kepada Kristen maka aku memilih pembahasan desertasiku untuk meraih gelar Doktor tentang bantahan kepada sufiah, terukhususkan sufiah filsafat, dengan judul :

"Hubungan Allah dengan alam menurut sufi filsafat, penelitian dan kritikan"


DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :


"Dan telah ditulis banyak pembahasan dan telah tersebar banyak risalah-risalah ilmiah seputar perkara ini, akan tetapi saya melihat perkaranya masih butuh untuk ditinjau kembali, dengan tinjauan islami dengan timbangan/tolak ukurnya yang benar dan analogi yang benar, yaitu kitabullah dan sunnah Rasulullah, dan ditambah dengan manhaj para ulama salafus sholeh"

Komentar :

Pada paragraf ini beliau menegaskan kembali bahwasanya tolak ukur yang benar untuk digunakan dalam mengukur kebenaran yaitu Al-Qur'an, As-Sunnah dengan manhaj Salaf.

Setelah itu DR Sa'id Aqiel Siraj menyebutkan khuttoh bahas disertasinya lalu beliau berkata :


"Adapun sisi kritikan maka saya memperhatikan manhaj/metode pengkritikan yang ilmiyah yang benar, maka saya mengkritik pendapat-pendapat mereka (kaum sufi) dan saya menjelaskan kebatilan pemikiran-pemikiran mereka dengan al-Qur'an dan as-Sunnah, dan dengan dalil akal yang shahih, dan dengan perkataan para ulama yang sholihin. Dan dalam hal ini saya berusaha untuk menjauh dari fanatisme/ta'asshub dan sikap tidak inshoof (tidak adil)"

Komentar:

Pada paragraf ini DR Said Aqiel Siroj menjelaskan bahwa beliau menjauhi sikap fanatik dan sikap tidak inshoof (adil) dalam menulis disertasinya. Karenanya saya sangat berharap para pembaca membaca disertasi yang ditulis beliau ini yang sarat dengan faedah dan jauh dari sikap fanatik buta tanpa dalil. Bahkan dalam paragraf ini beliau (DR Said Aqiel) menegaskan bahwa beliau menjelaskan kebatilan pemikiran sufi falsafi dengan berdasarkan perkataan ulama yang sholihin. Siapakah yang dimaksud oleh beliau dengan Ulama yang sholihin ini??. Jika para pembaca menelaah disertasi karya DR Said Aqiel Siroj ini maka para pembaca akan menemukan bahwasanya perkataan alim ulama yang paling dijadikan landasan oleh DR Said Aqiel dalam membatilkan pemikiran sufi falsafi adalah perkataan Ibnu Taimiyyah rahimahullah yang dituduh sebagai dedengkotnya salafy. Jadi sangat jelas bahwasanya DR Said Aqiel menganggap Ibnu Taimiyyah adalah sosok alim ulama yang sholih, karenanya DR Said Aqiel menjadikan perkataan-perkataannya untuk membantah tokoh-tokok sufi seperti Ibnu Arobi dan Al-Ghozali.


DR Said Aqiel Siradj berkata :


"Dan tujuanku dalam disertasiku ini adalah menampilkan dirosah/penelitian yang sungguh-sungguh dan teliti/detail dengan harapan untuk menampakan dan menjelaskan hakikat/kebenaran, yang selanjutnya adalah untuk membela kebenaran dan untuk meninggikan kalimat Allah yang tinggi. Maka aku meminta kepada Allah Azza wa Jalla untuk merealisasikan harapan tujuan desertasi ini dan agar memberi faedah kepada para pembacanya dan menjadikannya ikhlash karena mengharapkan wajahNya, dan aku beristighfar kepada Allah atas seluruh kesalahanku yang ada dalam disertasiku ini, dan aku bersyukur kepadaNya atas kebenaran yang Allah hidayahkan kepadaku, dan segala puji bagi Allah di permulaan dan di akhir, dan Dialah cukup bagiku, dan sebaik-baik tempat bertawakal, dan semoga shalawat dan shalam tercurahkan bagi sayyidinaa Muhammad dan keluarganya serta para sahabatnya"

Komentar :

Semoga artikel yang saya paparkan ini membantu mewujudkan terkabulnya harapan DR Said Aqiel Siroj, sehingga risalah disertasi yang bagus ini bisa dipetik faedahnya oleh para pembaca sekalian, khususnya kaum muslimin di Indonesia.


Demikianlah muqoddimah yang ditulis oleh DR Said Aqiel Siraj di muqoddimah disertasi beliau dan sedikit komentar dari saya. Sungguh muqoddimah  yang sarat dengan penjelasan pokok-pokok usul aqidah Ahlus Sunnah yang dibangun di atas manhaj salaf.

Kota Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-, 14-01-1433 H / 09 Desember 2011 M
Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja